Sabtu, 20 Juli 2019

PERAN BIDAN PADA KASUS NEAR MISSED

 PERAN BIDAN PADA KASUS NEAR MISSED

1. Peran bidan pada kasus near missed

         Hari ini, adalah hari yang bersejarah bagi pasangan Ny. F dan Tn. M. Karena hari ini adalah lahirnya bayi kembar mereka, berat 2300 gram dan 1900 gram. Peristiwa kelahiran kedua bayi mereka dimulai dengan kejangnya Ny. F saat kehamilannya mencapai usia kehamilan cukup bulan. Tn. M yang panik, langsung membawa istrinya ke bidan praktek terdekat (tanpa membawa apapun, hanya baju yang melekat)

       Bidan praktek yang saat itu sedang menangani persalinan, langsung meninggalkan pasiennya, dan mengantar Ny. F dan suaminya Tn. M ke Puskesmas terdekat. Di Puskesmas itu, dalam waktu 30 menit, perawat, bidan dan petugas kesehatan yang bertugas langsung memberikan penanganan. Obat anti kejang diberikan dan stabilisasi dilakukan sebelum melakukan perujukan dengan ambulans ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD).

       Tim RSUD sudah mengetahui bahwa ada pasien hamil yang kejang sedang diberangkatkan ke tempat mereka bertugas. Beberapa menit sebelum pasien sampai, bagian unit gawat darurat, kamar bersalin dan kamar operasi sudah mengetahui bahwa pasien ini membutuhkan operasi segera.

      Pasien kejang dalam kehamilan membutuhkan tindakan operasi sesar segera untuk menyelamatkan janin dan juga nyawanya sendiri. Saat ini, kabar terbaru adalah pasien sudah pulih kesadarannya setelah operasi - dan memasuki ruang perawatan ibu
.
      Ini kehamilan yang pertama, kata Tn. M yang baru berusia 18 tahun. Ny. F yang juga berusia 18 tahun, datang dengan kejang, yang sebelumnya tidak pernah dialami saat kontrol kehamilan di Rumah Sakit terdekat. Setelah pemberian dosis awal obat antikejang (Magnesium Sulfat), Puskesmas menyiapkan rujukan segera ke RSU- dan menghubungi tim RSU untuk kesiapan mereka.

      Tn. M yang tidak membawa uang atau baju ganti (saya lihat ternyata kaki nya pun bahkan tidak memakai sendal/ sepatu) dianjurkan memakai Jampersal supaya semua pembiayaan ditanggung negara. Pasien dan suami langsung berangkat dengan Puskesmas ke RSU, biaya operasi, perawatan, ambulans akan ditanggung oleh Jampersal- karena kasus ini merupakan kehamilan dengan komplikasi/ penyulit, yang memang harus ditangani pada fasilitas kesehatan setingkat RSU.

2. Mendampingi klien yang hampir meninggal

Sikap tenaga kesehatan seharusnya:

a. Tidak meramalkan (menjelaskan kepada keluarga) tentang lamanya sakaratul maut.
b. Menguatkan hati keluarga pasien.
c. Menjelaskan kepada keluarga tentang perubahan-perubahan yang terjadi.
                         
3. Tindakan pada keluarga yang ditinggalkan

a. Beri kesempatan keluarga untuk bersama dengan jenazah beberapa saat
b. Siapkan tempat khusus untuk memulai rasa berduka
c. Pahami perasaan dan dengarkan semua ekpresinya
d. Bantu keluarga untuk membuat keputusan serta perencanaan pada jenazah
e. Beri support jika terjadi disfungsi berduka.

4. Merawat Jenazah

 Perlakukan tubuh dengan rasa hormat yang sama terhadap orang yang masih hidup.

1. Dibaringkan dalam posisi anatomis yang normal ( bila perlu posisi disesuaikan dengan norma agamanya).
2. Singkirkan pakaian atau alat tenun
3. Lepaskan semua alat kesehatan seperti selang- selang yang terpasang dilepas
4. Perhiasan, tusuk rambut dan gigi palsu dilepas (protesis lain)
5. Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda, dimandikan bila perlu.
6. Tempatkan satu bantal di bawah kepala
7. Tutup kelopak mata, jika tidak bisa tertutup bisa menggunakan kapas basah
8. Katupkan rahang atau mulut, kemudian ikat dan letakkan gulungan handuk di bawah dagu
9. Tempatkan kedua tangan jenazah di atas abdomen dan ikat pergelangannya (tergantung dari kepercayaan atau agama)
10. Letakkan alas di bawah glutea
11. Kedua kaki boleh diikat pada pergelangannya.
12. Memasang tanda pengenal ganda pada mayat, satu pada pembungkus dan satu pada kaki mayat.
13. Tutup tubuh jenazah sampai sebatas bahu
14. Kepala ditutup dengan kain tipis
15. Bungkus jenazah dengan kain panjang
16. Bila pasien meninggal setelah menderita penyakit tertentu yang menular, perlu mendapatkan penanganan khusus untuk mencegah penularan.
17. Mencatat dan menyimpan barang-barang berharga milik pasien dan diserahkan kepada keluarganya.
18. Memberikan surat keterangan kematian yang ditanda-tangani oleh dokter.
19. Bila perlu autopsi maka perlu mendapatkan ijin dari keluarganya.
 
  Autopsi adalah pemeriksaan  organ-organ dan jaringan tubuh manusia sesudah mati. 

PERILAKU SEHAT DAN SAKIT

PERILAKU SEHAT DAN SAKIT

DEFINISI PERILAKU

   Dari segi BIOLOGIS  suatu kegiatan atau aktivitas organisme (makhluk hidup)
Semua makhluk berperilaku baik itu hewan, tumbuhan maupun manusia
Perilaku manusia adalah tindakan atau aktivitas dari manusia yang mempunyai cakupan yang sangat luas, misalnya berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah dll

Secara khusus perilaku (manusia) adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati secara langsung maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar

KONSEP PERILAKU

SKINNER (1938) seorang PSIKOLOG , perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus
Pendapat SKINNER dikenal sebagai TEORI S-O-R
 S      O       R
S = STIMULUS
O = ORGANISME
R = RESPONS

SKINNER membedakan ada nya 2 respon dari sudut stimulus, yaitu:

1. RESPONDENT RESPON/REFLEXIVE
Yaitu respon yang ditimbulkan oleh karena ada nya rangsangan atau stimulus eliciting stimulation
2. OPERANT RESPONSE/INSTRUMENTAL RESPONSE
Respon yang muncul dan berkembang dan diikuti oleh stimulus atau perangsang tertentu  reinforcing stimulation atau reinforcer

Dari bentuk respon terhadap stimulus diatas muncul perilaku
Perilaku tersebut yaitu :
  1. Perilaku tertutup
  2. Perilaku terbuka
DOMAIN PERILAKU

Dari teori BLOOM (1908) membagi perilaku manusia dalam 3 domain :
Pengetahuan ( Knowledge )
Sikap ( Attitude )
Praktik atau Tindakan ( Practice )

PENGETAHUAN

Ada 6 tingkatan dalam pengetahuan :
  1. Tahu  ( Know )
  2. Memahami ( Comprehension )
  3. Aplikasi ( Aplication )
  4. Analisis ( Analysis )
  5. Sintesis ( Synthesisi )
  6. Evaluasi ( Evaluation )
  7. SIKAP ( ATTITUDE )
  8. Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap stimulus atau objek.
  9. Manifestasi sikap tidak dapat terlihat, reaksi tertutup
  10. NEWCOMB ahli psikolog menyatakan sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan
Tingkatan dari sikap yaitu:
  • Menerima
  • Merespon
  • Menghargai
  • Bertanggung jawab
TINDAKAN (PRACTICE )
Tingkatan tindakan :
  • Respon terpimpin  terarah, sesuai urutan nyata
  • Mekanisme
  • Adopsi
DETERMINAN PERILAKU

Dalam menerima respon terhadap stimulus, setiap orang berbeda-beda, dipengaruhi oleh karakteristik atau faktor perilaku, hal ini disebut determinan perilaku, faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh
  1. Faktor predisposisi ( pengetahuan, sikap, kepercayaan, nilai-nilai)
  2. Faktor pendukung ( lingkungan fisik, fasilitas, sarana prasarana )
  3. Faktor pendorong ( perilaku petugas kesehatan )
PERILAKU SEHAT DAN SAKIT

APA ITU SEHAT??
APA ITU SAKIT??
APA ITU PENYAKIT??

SEHAT adalah keadaan sejahtera, sempurna dari fisik mental dan sosial yang tidak terbatas hanya bebas dari penyakit

Penyakit (disease) adalah suatu bentuk reaksi biologis terhadap suatu organisme, benda asing atau luka (injury). Hal ini ditandai oleh perubahan fungsi-fungsi 
Sakit (illness) adalah penilaian seseorang terhadap penyakit sehubungan dengan pengalaman yang langsung dialaminya. Hal ini merupakan fenomena subjektif yang ditandai dengan perasaan tidak enak (feeling unwell).

KONSEP SEHAT DAN SAKIT

KONSEP SEHAT
yaitu bahwa sehat adalah orang yang dapat bekerja atau menjalankan pekerjaannya sehari-hari
KONSEP SAKIT, dimana dirasakan oleh seseorang yang sudah tidak dapat bangkit dari tempat tidurnya, tidak dapat menjalankan pekerjaan sehari-hari

PERILAKU ORANG SAKIT
Tidak bertindak atau tidak melakukan kegiatan apa-apa (no action)
Tindakan mengobati sendiri (self treatment)
Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan tradisional (tradisional remedy)
Mencari pengobatan dengan membeli obat-obatan di warung obat (chemist shop)
Mencari pengobatan ke fasilitas pengobatan modern yang diadakan oleh pemerintah maupun lembaga kesehatan swasta, dalam hal ini balai pengobatan, klinik, puskesmas dan rumah sakit
Mencari pengobatan kefasilitas pengobatan modern yang diselenggrakan oleh dokter praktik (private medicine)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU PENCARIAN PELAYANAN KESEHATAN
  1. DAYA TARIK 
  2. PENGETAHUAN
  3. KEPERCAYAAN
  4. KEMUDAHAN ATAU AKSES
  5. SOSIAL EKONOMI
ASPEK SOSIAL YANG BERPENGARUH PADA PELAYANAN KESEHATAN

 1. HEALTH BELIEVE
Yaitu tradisi yang diberlakukan secara turun temurun
2. LIFE STYLE
Yaitu gaya hidup yang berpengaruh kepada kesehatan
3. HEALTH SEEKING BEHAVIOR
Suatu bentuk kepercayaan kalau sakit tidak perlu ke pelayanan kesehatan tetapi cukup membeli obat ke warung atau mendatangi dukun


TEORI PERUBAHAN PERILAKU
  1. TEORI STIMULUS ORGANISME
  2. TEORI FESTINGER
  3. TEORI FUNGSI
  4. TEORI KURT LEWIN
1. TEORI STIMULUS ORGANISME

Teori ini aplikasi dari S-O-R
Stimulus Organisme ( Perhatian, pengertian, penerimaan) timbul Respon baik perubahan sikap maupun respon tindakan

2. TEORI FESTINGER (Dissonance theory)
Terjadi karena didalam diri individu terdapat 2 elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat atau keyakinan.
Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek, dan kemudian menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda/bertentangan di dalam didalam individu itu sendiri

3. TEORI FUNGSI

TEORI INI BERDASARKAN ANGGAPAN BAHWA PERUBAHAN PERILAKU INDIVIDU TERGANTUNG PADA KEBUTUHAN
FUNGSI PERILAKU :
Instrumental dapat berfungsi memberikan pelayanan
Deference mechanism  pertahanan diri menghadapi lingkungan
Penerima objek  menyesuaikan diri terhadap lingkungan
Nilai ekspresif  keterampilan menjawab dalam suatu kondisi

4. TEORI KURT LEWIN

Pada teori ini dikatakan bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan penahan. 

TEORI PENGGUNAAN PELAYANAN KESEHATAN

Anderson dan Newman mempersamakan 3 dimensi dari kepentingan utama dalam pengukuran dan penentuan pelayanan kesehatan, yaitu
1. Tipe ( tipe pelayanan)
2. Tujuan 
a. I primary  b. II secondary  c. III tertiary  d. IV custodial
3. Unit analisa (kontak, volume, episode)

DAFTAR PUSTAKA
Notoatmodjo. 2014. Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

MENU BAYI DAN BALITA

Menu Bayi dan Balita


 
1.Bayi 0-6 Bulan
2. Usia 6-8 Bulan
3. Usia 9-10 Bulan
4. Usia 10-12 Bulan
5. Usia <12 Bulan

1. Usia 0-6 Bulan

Hanya ASI saja Tanpa Tambahan Makanan Apapun

2. Usia 6-8 Bulan
  • Lanjutkan Menyusui
  • Jumlah Takaran 2-3 SDM (125 ml)
  • Frekuensi 2-3x makan
  • 1-2 kali selingan(Buah atau biskuit)
  • Makanan dibuat dengan di saring, tekstur makanan lembik dan tidak terlalu encer
Contoh menu

*  : Kentang
** : Kacang Merah
*** : Salmon
****: Wortel brokoli
Tambahan EVOO
NB : EVOO tidak boleh di masak!!

Cara membuat

Semua bahan di kukus setelah matang di haluskan menggunakan saringan dan di campur dg EVOO
Jika kurang lembik maka boleh di tambah ASI

3. Usia 9-10 Bulan
  • Lanjutkan menyusui
  • Jumlahnya < 125 ml
  • Frekuensi 3-4 kali
  • 1-2 kali selingan(Buah atau biskuit)
  • Bahan makanan sama dengan orang dewasa, rasa disesuaikan untuk anak-anak
  • Makanan dibuat dg di tumbuk dan tekstur nya agak kasar
Contoh Menu

* : Nasi
** : Tempe
*** : Daging
****: Brokoli
Tambahan EVOO

Cara Memasak

Semua bahan makanan di kukus kemudian di tumbuk hingga tekstur nya agak kasar.
Atau menggunakan slow cooker

4. 10-12 Bulan
  • Lanjutkan Menyusui
  • Jumlahnya 200ml
  • 3-4 kali makan
  • 1-2 kali selingan(Buah atau biskuit)
  • Bahan makanan sama dengan orang dewasa, rasa disesuaikan untuk anak-anak
  • Makanan di cincang kasar
5. Usia <12 Bulan
  • Lanjutkan Menyusui
  • <250 ml
  • Frekuensi 3-4 kali makan
  • 1-2 kali selingan
  • Menu sama untuk orang dewasa
  • Caranya memasak sama dengan orang dewasa
Gerakan Tutup Mulut (GTM)

 Penyebab gerakan tutup mulut pada anak terjadi karena anak merasa bosan dengan makanan yang diberikan, sedang sakit, merasa tidak lapar ataupun adanya trauma baik terhadap makanan tertentu atapun proses makan itu sendiri
Terkadang orang tua menjadi menjadi permisif sehingga membiarkan anaknya hanya makan biskuit favoritnya, memberi susu sebagai pengganti makanan atau memberikan makanan cepat saji yang menjadi kesukaan anak

Cara Mengatasi GTM
  • Atur jadwal makanan utama dan makanan selingan (snack) yang teratur yaitu tiga kali makanan utama dan dua kali makanan kecil di antaranya. Susu dapat diberikan dua - tiga kali sehari (500-600 ml/hari).
  • Batasi juga waktu makan tidak boleh lebih dari 30 menit.
  • Buat lingkungan yang menyenangkan untuk makan. Biasakan makan bersama keluarga di meja makan. Jika tidak memungkinkan untuk makan bersama, sebaiknya tetap latih anak makan di meja makan.
  • Dorong anak untuk makan sendiri. Bila anak menunjukkan tanda tidak mau makan (mengatupkan mulut, memalingkan kepala, menangis), tawarkan kembali makanan tanpa memaksa. Bila setelah 10-15 menit anak tetap tidak mau makan akhiri proses makan. Latih anak untuk mengenali rasa kenyang dan laparnya sendiri.
  • Jangan memaksa anak makan, apalagi sampai memarahinya.
  • Jangan membiasakan anak makan sambil melakukan aktivitas lain seperti bermain, menonton televisi, berjalan-jalan atau naik sepeda.
  • Jangan memberikan minuman lain selain air putih di antara waktu makan.
  • Jangan menjadikan makanan sebagai hadiah.

PENGANTAR ASUHAN KEBIDANAN

Adaptasi Fisiologi Persalinan

Persalinan

Proses dimana bayi, plasenta dan selaput ketuban keluar dari uterus ibu pada usia kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) tanpa diserai adanya penyul

Tanda dan Gejala Persalinan

Timbulnya kontraksi uterus/his
Penipisan dan pembukaan servix
Bloody Show (lendir disertai darah dari jalan lahir)

Tahapan Persalinan

Kala I
Dari his/kontraksi sampai bukaan lengkap
Fase laten
Fase aktif
Akselerasi : pembukaan menjadi 4 cm
Dilatasi maksimal/kemajuan maksimal : pembukaan 4 cm menjadi 9 cm
Deselerasi : pembukaan 9 sampai 10 cm atau lengkap

Kala II

Dari pembukaan lengkap sampai lahirnya bayi

Tanda-tanda gejala kala II
DorAn
TekNus
PerJol
VulKa

Kala III

Segera setelah bayi lahir sampai keluarnya plasenta

Tanda-tanda klinis dari pelepasan plasenta yaitu:
Semburan darah
Pemanjangan tali pusat
Perubahan bentuk uterus : dari diksoid menjadi bentuk bundar (globular)

Kala IV

saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum

Refrensi

POGI. 2008 . Asuhan Persalinan Normal. Jakarta: JNPK-KR
Pusdiknas, WHO, JHIPEGO. 2001. Buku III asuhan kebidanan pada ibu infartum. Jakarta
Sulistyawati,Ari dan Esti Nugraheny. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta. Salemba Medika
Varney, Kriebs, Gegor. 2002. Buku Ajar Asuhan Kebidanan, Edisi 4, Volume 1. EGC, Jakarta.

KONSEP DIRI

KONSEP DIRI


Pengertian Konsep Diri

⏭ Stuart & Sundeen       semua pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang merupakan pengetahuan   individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain
⏭Burns  ➝ hubungan antara sikap dan keyakinan tentang diri kita sendiri.

Konsep Diri Positif
  • Merasa setara dengan orang lain
  • Yakin dapat mengatasi segala macam masalah
  • Bisa menerima pujian tanpa rasa malu
  • Bisa menyadari bahwa setiap orang memiliki perasaan, keinginan, serta perilaku yang tidak semuanya dapat di
  • setujui oleh anggota masyarakat.
  • Bisa memperbaiki dirinya sendiri. Maksudnya dia mampu untuk mengungkapkan tentang aspek kepribadian yang tidak disukainya dan akan berusaha untuk dapat mengubahnya.
Konsep Diri Negatif
  • Sangat rerponsif akan pujian
  • Peka terhadap kritikan.
  • Lebih bersikap hiperkritis.
  • Merasa tidak di sukai oleh orang lain.
  • Memiliki sikap pesimis disetiap kompetisi.
Komponen Konsep Diri
  1. Citra Tubuh (Body Image)
  2. Ideal Diri
  3. Harga Diri
  4. Peran
  5. Identitas Diri
Menurut Brian Tracy,  konsep diri memiliki tiga komponen
  • Self-Ideal (Ideal Diri) terdiri atas harapan, impian, visi dan idaman
  • Self-Image (Citra Diri) Membayangkan diri dan menentukan bagaimana kita akan bersikap pada suatu situasi.
  • Self-Esteem (Jati Diri) penilaian bagaimana kita menyukai diri sendiri.
faktor yAng mempengaruhi konsep diri 

1. Menurut E.B. Hurlock 
  • Bentuk tubuh
  • Cacat tubuh
  • Pakaian
  • Nama dan julukan
  • Inteligensi kecerdasan
  • Taraf aspirasi/cita-cita
  • Emosi
  • Jenis/gengsi sekolah
  • Status sosial
  • Ekonomi keluarga
  • Teman
  • Tokoh/orang yang berpengaruh.



PRINSIP MANAJEMEN ELIMINASI

PRINSIP MANAJEMEN ELIMINASI

Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua yakni;
1.Eliminasi Urine (buang air kecil) atau miksi
2. Eliminasi Alvi (buang air besar) atau defekasi

Miksi
⏯Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi
⏯Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu:
1. Kandung kemih secara progresif terisi
2. Timbul refleks saraf yang disebut refleks    miksi. 

Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya eliminasi urine

1.Ginjal
2. Kandung kemih
3. Uretra
    
Frekuensi Berkemih
  • Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan kesempatan
  • Banyak orang-orang berkemih kira-kira 70 % dari urine setiap hari pada waktu bangun tidur
  • Kebiasaan lain dalam berkemih : pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum tidur dan berkisar waktu makan
Usia Jumlah / hari

Hari pertama - kedua dari kehidupan 15 – 60 ml
Hari ketiga – kesepuluh dari kehidupan 100 – 300 ml
Hari kesepuluh – 2 bulan kehidupan 250 – 400 ml
Dua bulan – 1 tahun kehidupan 400 – 500 ml
1 – 3 tahun 500 – 600 ml
3 – 5 tahun 600 – 700 ml
5 – 8 tahun 700 – 1000 ml
8 – 14 tahun 800 – 1400 ml
14 tahun – dewasa 1500 ml
Dewasa tua 1500 ml / kurang

Komposisi urine: Air ( 96%) dan 4% larutan organik serta non organik.

Karakteristik urine

Warna
      Kekuning-kuningan
      Orange gelap
      Merah, coklat 
Bau
     Normal urine berbau aromatik yang    memusingkan.
Kejernihan
     Normal urine terang dan transparan. Urine dapat    menjadi keruh karena ada mukus atau pus.
pH
     Normal pH urine sedikit asam (4,5 – 7,5).
  • Retensi
  • Inkontinensia urine
  • Enuresis
  • Perubahan pola urine  (frekuensi, keinginan/urgensi)
  • Poliuria
  • Urine suppression
Penyebab Umum Masalah Eliminasi
  • Obstruksi
  • Pertumbuhan jaringan abnormal
  • Batu
  • Infeksi
Kateterisasi

1. Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan. Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silicon

2, Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter kedalam kandung kemih melalui uretra, dengan tujuan mengeluarkan urin.

KEGUNAAN
  • Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih.
  • Untuk pengumpulan spesimen urine.
  • Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih.
  • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan.

PERAWATAN KATETER
  • Banyak minum
  • Mengosongkan urine bag secara teratur
  • Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita
  • Membersihkan darah, nanah, sekret dan mengolesi kateter dengan antiseptik secara berkala
  • Ganti kateter paling tidak 2 minggu sekali
Komplikasi Pemasangan Kateter
  • Bila pemasangan dilakukan tidak hati-hati bisa menyebabkan luka dan perdarahan uretra
  • Balon yang dikembangkan sebelum memasuki buli-buli juga dapat menimbulkan luka pada uretra. 
  • Pada penderita tidak sadar, kateter dengan balon terkembang bisa dicabut yang berkibat perdarahan dan melukai uretra
  • Kateter tidak bisa dicabut karena saluran pengembang balon tersumbat
Urinalisis

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. 

Defekasi

Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum.

 Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. 

 Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang

   Yang berperan adalah sistem gastroinstestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. 

Gangguan Eliminasi Alvi
  1. Konstipasi
  2. Diare
  3. Inkontinensia usus
  4. Kembung
  5. Hemorroid
  6. Fecal infection
Faktor Yang Mempengaruhi Proses Defekasi
  1. Usia
  2. Diet asupan cairan
  3. Aktifitas 
  4. Pengobatan
  5. Gaya hidup
  6. Penyakit
Spesimen Urin

Tujuan 
 Menetukan apakah terdapat kelainan urin yang di urai secara makroskopis ( fisik ), sedimen / endapan, kimiawi, bakterialogis, maupun imunologis, tergantung pada sampel atau jenis urin yang diperiksa.
  • Spesimen urin bersih untuk urinalisis rutin
  • Spesimen urin tengah atau pancar tengah untuk    kultur urin
  • Spesimen urin sewaktu untuk berbagai pemeriksaan        bergantung masalah spesifik pada klien.
Feses

Pemeriksaan feses dilakukan untuk:
  • Melihat ada tidaknya darah. 
  • Mendeteksi telur cacing dan parasit.
  • Mendeteksi virus dan bakteri
Penyimpanan
  • Feses tahan < 1 jam pada suhu ruang 
  • Bila 1 jam/lebih gunakan media transpot yaitu Stuart’s medium, ataupun Pepton water
  • Penyimpanan < 24 jam pada suhu ruang, sedangkan > 24 jam pada suhu 4°C 





KEBUTUHAN OKSIGEN

Kebutuhan Oksigenasi



  • Sistem tubuh yang berperan dalam proses oksigenasi
  • Proses oksigenasi
  • Faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen
  • Jenis pernapasan
  • Pengukuran fungsi paru
  • Masalah kebutuhan oksigen

Pengertian

Kebutuhan oksigenasi merupakan kebutuhan manusia yang digunakan untuk metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup & aktivitas berbagai organ & sel.

Tujuan dari pernapasan
Menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida.

Fungsi utama sistem pernapasan
Untuk memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh & mengeliminasi CO2  yang dihasilkan oleh sel

Sistem tubuh yang berperan dalam kebutuhan oksigenisasi

1. Saluran Pernapasan   bagian atas
2. Saluran Pernapasan bagian bawah
3. Paru
4. Sistem kardiovaskuler

Saluran Pernapasan bagian atas

➧Berfungsi  
  1.  Penyaring
  2.  Menghangatkan
  3.  Melembabkan udara yang terhirup

Saluran ini terdiri dari :

1. Hidung
Proses oksigenisasi diawali penyaringan oleh bulu yang ada dalam vestibulum (bagian rongga hidung) kemudian dihangatkan & dilembabkan
2. Faring
3. Laring (tenggorokan)
4. Epiglotis
     Merupakan katup tulang rawan  berfungsi membantu menutup laring pada saat proses menelan

Saluran pernapasan bagian bawah

⏯ Berfungsi mengalirkan udara & memproduksi surfaktan.
⏯ Terdiri dari 
  1. Trakea mengeluarkan debu atau benda asing
  2. Bronkus
  3. Bronkiolus
   Paru
  • Merupakan organ utama dalam sistem pernapasan 
  • Paru memiliki jaringan elastis, berpori serta berfungsi sebagai tempat pertukaran gas oksigen & karbondioksida

Sistem Kardiovaskuler
Kemampuan oksigenisasi pada jaringan dipengaruhi oleh fungsi jantung untuk memompa darah sebagai transport oksigen.

Proses oksigenasi

Proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi terdiri dari :
  1. Ventilasi
  2. Difusi gas
  3. Transportasi gas

Ventilasi

Merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfir kedalam alveoli atau dari alveoli keatmosfir.
Proses ventilasi dipengaruhi :
  • Adanya perbedaan tekanan antara atmosfer dengan paru, semakin tinggi tempat, maka tekanan udara semakin rendah. Demikian pula sebaliknya.
  • Adanya kemampuan alveoli untuk kembang kempis.
  • Adanya jalan nafas dari hidung hingga alveoli yang terdiri dari otot polos yang dipengaruhi oleh sisitem syaraf otonom. 
  • Adanya refleks batuk dan muntah
  • Adanya peran mucus silaris sebagai penangkal benda asing
  • Complience atau kemampuan paru untuk mengembang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor
  • Recoil atau kemampuan untuk mengeluarkan CO2 atau kontraksi penyempitan paru.
  • CO2 memiliki kemampuan merangsang pusat pernafasan. 


Difusi Gas
Merupakan pertukaran oksigen dialveoli ke kapiler paru & C02  dikapiler ke alveoli. 

Transportasi Gas
  1. Merupakan proses pendistribusian oksigen di kapiler ke jaringan tubuh & CO2 jaringan tubuh ke  kapiler
  2. Transportasi gas dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu curah jantung, latihan, perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit) serta eritrosit dan kadar Hb.

Jenis Pernapasan

1 Respirasi Eksternal
Keseluruhan rangkaian kejadian yang terlibat dalam pertukaran O2 &CO2  antara lingkungan eksternal & sel tubuh

2. Respirasi internal
Proses metabolisme intrasel yang berlangsung didalam mitokondria, yang menggunakan O2 & mengeluarkan CO2 selama penyerapan energi dari molekul nutrien

Pengukuran Fungsi Paru

Kemampuan faal paru dapat dinilai dari volume & kapasitas paru.
   Volume paru merupakan volume udara yang mengisi ruangan udara dalam paru terdiri :
1. Volume pasang surut (tidal volume TV) merupakan jalan udara keluar-masuk pada saat terjadi pernapasan biasa. Orang sehat rata-rata 500cc
2. Volume cadangan hisap(Inspiratory reserve volume- IRV) Jumlah udara yang masih bisa dihirup secara maksimal setelah menghirup udara pada pernapasan biasa. Org dewasa 3.000cc.
3. Volume cadangan hembus (Expiratory reserve volume-ERV) 
Jumlah udara yang masih bisa dihembuskan secara maksimal setelah menghembuskan udara pada pernapasan biasa orang dewasa mencapai 1100cc.
4. Volume sisa (residual volume-RV)
Jumlah udara yang masih tertinggal diparu meskipun telah menghembuskan napas secara maksimal orang dewasa rata-rata 1200cc

Kapasitas Paru

  1. Kapasitas hisap( Inspiratory capacity),Merupakan jumlah dari volume pasang surut & volume cadangan hisap
  2. Kapasitas cadangan fungsional (Functional reserve capacity-FRC), Jumlah dari volume cadangan hembus dengan volume sisa
  3. Kapasitas Vital (Capacity Vital-CV) ,Jumlah dari volume cadangan hembus, volume pasang surut & volume cadangan hisap
  4. Jumlah keseluruhan volume udara yang ada dalam paru (total lung capacity-TLC), Terdiri atas voloume pasang surut, volume cadangan hisap,volume cadangan hembus & vol sisa
Masalah Kebutuhan Oksigen

1. Hipoksia
Hipoksia merupakan kondisi tidak terpenuhinya oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau peningkatan penggunaan oksigen dalam tingkat sel. 
      Ditandai dengan sianosis.
2. Perubahan pola pernapasan
➧Tachypnea
Merupakan pernapasan yang memiliki frekwensi lebih dari 24 X/m. Proses ini terjadi karena paru dalam keadaan atelektasis.
➧Bradypnea
Pernapasan kurang dr 10X/m. Ditemukan pada peningkatan TIK disertai narkotik atau sedatif
➧Hiperventilasi
Cara tubuh dalam mengompensasi peningkatan jumlah oksigen dalam paru agar pernapasan lebih cepat  & dalam.

➧Kusmaul
Pola pernapasan cepat & dangkal yang dapat ditemukan pada orang dalam keadaan asidosis metabolik.
➧Hipoventilasi 
Merupakan upaya tubuh mengeluarkan karbondioksida dengan cukup serta tidak cukupnya penggunaan oksigen
➧Dispnea
Perasaan sesak & berat saat pernapasan
➧Orthopnea
Kesulitan bernapas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri & pola ini ditemukan pada seseorang yang mengalami kongestif paru
➧Cheyne Stokes
Siklus pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik turun, berhenti, kemudian mulai dari siklus baru
➧Pernapasan paradoksial 
Pernapasan yang ditandai dengan pergerakan dinding paru yang berlawanan arah dari keadaan normal, sering ditemukan pada keadaan atelektasis.
➧Biot
Merupakan pernapasan dengan irama yang mirip dengan cheyne stokes, tetapi amplitudonya tidak teratur, pola ini sering dijumpai pada rangsangan selaput otak, TIK meningkat, trauma kepala dan lain-lain
➧Stridor 
Pernapasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran pernapasan. Pola ini ditemakan pada kasus spasme trakea atau obstruksi laring. 

Obstruksi jalan napas
   Obstruksi jalan napas merupakan kondisi pernapasan yang tidak normal akibat ketidakmampuan batuk secara efektif





PERKEMBANGAN REMAJA

Perkembangan Remaja


    Remaja

Menurut Hurlock (1997) remaja diartikan sebagai salah satu masa transisi atau peralihan, yaitu periode dimana individu secara fisik maupun psikis berubah dari masa kanak-kanak kemasa dewasa.

Tahapan Perkembangan Remaja Dibagi Dalam 3 Tahap

1. Masa remaja awal (usia 12-15 tahun)

    Pada tahap ini remaja masih terheran-heran akan perubahan-perubahan itu dan mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru dan adanya ketertarikan terhadap lawan jenis.

2. Masa remaja pertengahan (usia 14-16 tahun) 

    Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawan-kawan. Selain itu, pada tahap ini, remaja juga berada dalam kondisi kebingungan karena dia tidak tahu harus memilih yang mana yang peka atau peduli, ramai-ramai atau sendiri, idealis, matrealis, dsb. Remaja harus mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.

 3. Masa remaja lanjut (usia 18-21 tahun)

● Minat yang makin mantap
● Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan pengalaman baru
● Terbentuk identitas sosial yang sudah tidak akan berubah lagi
● Mempunyai penderian tertentu berdasarkan satu pola yang jelas yang baru ditemukannya
● Masa sudah mantap dan stabil


Ada 3 Kriteria Remaja

● Berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan sosial.
● Mengalami perkembangan psikologik dan pola identifikasi dari anak-anak menjadi dewasa.
● Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif mandiri.


Perkembangan Pada Remaja

● Fungsi Organ Seksual
● Cara Berpikir Kausalitas (sebab-akibat)
● Emosi Yang Meluap-luap
● Mulai Tertarik Pada Lawan Jenis
● Menarik Perhatian Lingkungan
● Terikat Dengan Kelompok

Kebutuhan Masa Remaja


● Kebutuhan kasih sayang
● Kebutuhan ikut serta dan kebutuhan kelompok
● Kebutuhan diri-sendiri
● Kebutuhan pengakuan dari orang lain
● Kebutuhan untuk dihargai

Tugas Perkembangan Remaja

● Perkembangan aspek biologik
● Menerima peranan dewasa
● Mendapatkan kebebasan emosional
● Mendapatkan pandangan hidup sendiri
● Realisasi suatu identitas sendiri

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.
Perkembangan aspek-aspek kognitif, yaitu:

● Kematangan yang merupakan perkembangan susunan syaraf sehingga misalnya fungsi-fungsi indera menjadi lebih sempurna
● Pengalaman yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungannya
● Transmisi sosial, yaitu hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial
● Ekuilibrasi, yaitu sistem pengaturan dalam diri anak sendiri yang mampu mempertahankan keseimbangan dan penyesuaian diri terhadap lingkungan.

Tahap-tahap perkembangan kognitif

● Tahap I: masa sensorik-motorik (0-2,5 tahun)
● Tahap II: masa praoperasional(2,0-7,0 tahun)
● Tahap III: masa konkrit-operasional (7,0-11,0 tahun)
● Tahap IV: masa formal-operasional (11-dewasa)


Perkembangan Emosi

Emosi sulit untuk didefinisikan oleh karena sifatnya yang tidak tetap
Contohnya :
Takut dan terkejut tampil, perasaan sedih dan gembira yang mendalam (sama-sama menangis)
Ada tiga pasang emosi, yaitu :
■ Lust – Unlust (Senang tak senang)
■ Spannung – Losung ( tegak tak tegak)
■ Erreggang – beruhigung (semangat-tenang)

Perkembangan Sosial

Gejolak emosi remaja dan masalah remaja lain pada umumnya disebabkan antara lain adanya konflik peran sosial. Konflik peran yang dapat menimbulkan gejolak emosi dan kesulitan-kesulitan lain pada masa remaja dapat dikurangi dengan memberi latihan-latihan agar anak dapat mandiri sedini mungkin.

Perkembangan Moral 

Moral merupakan bagian yang cukup penting dalam jiwa remaja. Sebagian orang berpendapat bahwa moral bisa mengendalikan tingkah laku anak yang beranjak dewasa sehingga ia tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau bertentangan dengan kehendak pandangan masyarakat

Faktor-faktor penyebab terjadinya masalah pada remaja

■ Adanya perubahan psikologis, dan biologis
■ Orang tua yang pendidikan kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan tepat waktu karena ketidaktahuannya.
■ Perbaikan gizi yang menyebabkan menarche
■ Membaiknya saranan komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi
■ Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja.

Perubahan Psikologi Masa Remaja

Wanita dan pria memiliki perasaan yang hampir sama, yaitu sering merasa gelisah, resah, ada konflik batin dengan orang tua, minat meluas, tidak menetap, pergaulan, mulai berkelompok, tetapi sering muncul perasaan asing, mulai mengenal lawan jenis atau pacaran, serta tidak stabilnya prestasi atau pelajaran sekolah

Perkembangan Fisik Remaja

Anak Perempuan

● Pertumbuhan tulang-tulang 
● Pertumbuhan payudara
● Mencapai ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya
● Bulu kemaluan menjadi keriting
● Tumbuh bulu-bulu ketiak

Anak laki laki

● Pertumbuhan tulang-tulang
● Testis membesar
● Tumbuh bulu di kemaluan
● Awal perubahan suara
● Ejakulasi (keluarnya air mani)
● Pertumbuhan tinggi badan mencapai tingkat maksimal setiap tahunnya
● Tumbih rambut-rambut halus di wajah (kumis, jenggot)
● Tumbuh bulu ketiak
● Tumbuh bulu di dada


                              Referensi

Marmi,S.ST.,M.Kes.2013. Pengantar Psikolog Kebidanan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar
Hurlock, Elizbeth. B., Psikologi Perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (edisi kelima), (Jakarta: Erlangga, 1993)
Gunarsah, S. 1989. Psikologi Perkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia
Jahja, Yudrik. 2012. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana

Jumat, 19 Juli 2019

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR

ADAPTASI FISIOLOGIS BAYI BARU LAHIR




➢Adaptasi fisiologis bayi baru lahir adalah periode adaptasi terhadap kehidupan keluar rahim

➢Periode ini dapat berlangsung hingga satu bulan atau lebih setelah kelahiran untuk beberapa sistem tubuh bayi
➢Adaptasi neonatal  -->  homeostasis -->     jika gagal --> bayi sakit

➢50% kematian bayi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan

Faktor-faktor yang Mempengaruhi  Adaptasi BBL

1. Riwayat antepartum ibu dan bayi baru lahir misalnya terpapar zat toksik, sikap ibu terhadap kehamilannya dan pengalaman pengasuhan bayi.

2. Riwayat intrapartum ibu dan bayi baru lahir, misalnya lama persalinan, tipe analgesik atau anestesi intrapartum.

3. Kapasitas fisiologis bayi baru lahir untuk melakukan transisi dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin.

4. Kemampuan petugas kesehatan dalam mengkaji dan merespon masalah dengan tepat pada saat terjadi.


DOKUMENTASI KEBIDANAN

   DOKUMENTASI KEBIDANAN

 

 ➜Semua warkat asli/catatan otentik yang dapat dibuktikan atau dijadikan bukti dalam hukum

 ➜Merupakan suatu kumpulan warkat yang disimpan secara sistematis karena mempunyai kegunaan agar setiap kali dibutuhkan mudah ditemukan kembali

  ➜Suatu proses pencatatan, penyimpanan informasi, data, fakta yang bermakna dalam pelaksanaan kegiatan

Franches Talska Fishbacht (1991)

➢ Tulisan yang berisi komunikasi tentang kenyataan yang essensial untuk menjaga kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi untuk periode tertentu

➢Menyiapkan dan memelihara kejadian-kejadian yang diperhitungkan melalui lembaran/catatan/dokumen

➢Membuat catatan pasien yang otentik tentang kebutuhan perawatan, mengidentifikasi masalah pasien, merencanakan, menyelenggarakan atau mengevakuasi

➢Memonitor catatan profesional dan data dari pasien, kegiatan keperawatan/kebidanan , perkembangan pasien menjadi sehat atau sakit dan hasil dari perawatan

➢Melaksanakan kegiatan keperawatan misalnya pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan dan perawatan, mengurangi penderitaan dan perawatan pada orang yang sekarat

Tujuan Dokumentasi

➧Sebagai alat dokumentasi :
- koordinasi asuhan kebidanan
- Mencegak informasi yang berulang-ulang
- Kesalahan dapat diminimalisir
- Penggunaan waktu yang lebih efisien
➧Sebagai mekanisme pertanggunggugatan
- Dapat dipertanggungjawabkan kualitas dan kebenarannya
- Secara hukum dapat melindungi tenaga kesehatan
➧Sebagai metode dalam pengumpulan data
- Mendeteksi kecenderungan yang mungkin terjadi
- Bahan penelitian
- Kemajuan pasien yang reliable dan objektif
➧Sebagai sarana pelayanan secara individual
➧Kekuatan, kebutuhan dan keadaan khusus
➧Sebagai sarana untuk evaluasi
➧Sebagai sarana untuk meningkatkan kerjasama antartenaga kesehatan
➧Sebagai sarana untuk pendidikan lanjutan
➧Sebagai alat untuk audit

Fungsi Dokumentasi

➢Dapat digunakan sebagai alat pembuktian yang syah apabila gugatan dari pihak manapun terhadap pelaksanaan pelayanan/asuhan kebidanan
➢Dapat digunakan sebagai landasan hukum dan upaya menegakkan hukum yang berhubungan dengan keprofesian

➢Merupakan sumber data dan informasi untuk menyusun rencana kegiatan yang berhubungan      dengan aspek efisiensi dan pembiayaan
➢Merupakan sumber data dan informasi untuk pendidikan lainnya khususnya riset
➢Dapat digunakan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan suatu pekerjaan/kegiatan


Prinsip-Prinsip Dokumentasi

  • Dokumentasi segera dilaksanakan setelah dilakukan pengkajian pertama dan setiap langkah asuhan kebidanan yang dilakukan
  • Bila memungkinkan kutip semua kalimat atau kata yang diungkapkan pasien
  • Pastikan kebenaran setiap data yang akan ditulis
  • Bedakan antara informasi yang obyektif dan penafsiran
  • Dokumentasikan dengan baik apabilan terjadi hal-hal berikut :
  • Perubahan kondisi klien atau timbul masalah baru
  • Respon klien terhadap tindakan kebidanan
  • Respon klien terhadap bimbingan
  • Hindari dokumen yang baku karena setiap pasien unik dan mempunyai masalah yang berbeda
  • Hindari penggunaan istilah yang tidak jelas
  • Data ditulis secara sah dengan menggunakan tinta
  • Apabila terjadi kesalahan dalam penulisan maka tulisan yang salah tersebut dicoret jangan dihapus, kemudian data yang benar dituliskan
  • Setiap kegiatan dokumentasi cantumkan waktu, tanda tangan, dan nama jelas


Manfaat Dokumentasi

Pasien
informasi yang lengkap bagi pasien dapat memungkinkan untuk mendapatkan perawatan yang diinginkan, memungkinkan dokter menegakkan diagnosis yang tepat sebagai dasar untuk pengobatan yang tepat pula
Dokter, bidan, perawat
asuhan yang tepat dapat menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan. Informasi yang lengkap merupakan penghematan waktu bagi tenaga kesehatan
Riset
informasi yang lengkap mengandung sumber materi lmiah yang dipercaya

STATUS GIZI DENGAN KESEHATAN REPRODUKSI

status gizi dengan kesehatan reproduksi

     menarche 

menarche merupakan haid pertama dari uerus yang merupakan awal dari fungsi menstruasi dan tanda telah terjadinya pubertas pada remaja putri.
⇒ menstruasi pertama kali yang bisa terjadi dalam rentang usia 10-16 tahun atau pada masa awal remaja. menarche merupakan tanda adanya suatu perubahan status sosial dari anak-anak ke masa dewasa, dan adanya perubahan lain seperti payudara membesar, pertumbuhan rambut pada daerah pubis dan aksila,dan distribusi lemak pada daeah pinggul

tanda-tanda menarche 
  1. suhu badan meningkat (seperti meriang)
  2. pinggang sakit 
  3. pusig-pusing
  4. payudara membengkak
  5. gangguan pada kulit 
  6. nafsu makan berlebih 
faktor internal menarche
  1. organ reproduksi➔kelainan pada lubang vagina, gagal tumbuh pada ovarium dan uterus
  2. hormonal➔perubahan fisik pada masa pubertas dikendalikan oleh hipotalamus, hypotalamus mulai menghasilakn zat kimia/hormon FSH dan LH 
  3. penyakit➔infeksi dan kanker payudara
faktor eksternal menarche
  1. Gizi⏩semakin lengkap status gizinya, maka semakin cepat usia menarche kebiasaan perempuan remaja untuk makan tidak teratur juga berpengaruh, misalnya tidak sarapan, dan diet yang tidak terkendali 
  2. pengetahuan orang tua⏩penting pada persiapan remaja dalam menghadapi menarche
  3. gaya hidup⏩olahraga, pengetahuan usia, dan psikologis
disminorhe dalam menstruasi 
    
     disminore adalah ketidak seimbangan hormon progestero dalam darah sehingga mengakibatkan rasa nyeri perut yang di sebabkan oleh kejang otot uterus, biasanya dalam bersamaan nyeri yang timbul dapat di jumpai adanya rasa pusing, mual, bahkan bisa terjadi diare

premenstruasi syndrome

     paramenstruasi syndrome merupakan suatu kondsisi dimana wanita lebih sensitif terhadap perasaan dan tubuhnya. gejala yang di timbulkan bisa ringan hingga berat tergantung personnya. syndrome ini dapat menyerang baik secara psikologis (mudah cemas,depresi, sakit kepala, nyeri sendi, sembelit hingga pingsan).

penyebab PMS
  1.  ketidak seimbangan hormon, ekstrogen meningkat, dan progesteron menurun,retensi air
  2. interaksi dari kekurangan serotonin (sistem pembawa pesan di otak), magnesium dan kalsium, turunnya gula darah, perubahan kadar hormon seks, yang cepat, dan kadar beta endorphin yang berlebihan sehingga muncul gejala baik fisik maupun emosional,funsi serotonin di dalam otak adalah mempengaruhi mood/perasaan,keinginan atau hasrat seseorang 
PMS dan status gizi 
  
    5 jenis status gizi,yaitu sangat kurus,kurus,normal,gemuk,dan obesitas. 
  • Obesitas, kolestrol tinggi gangguan regulasi asam lemak dan ester kolestrol. sindroma pramenstruasi adalah melalui kerja hormon insulin, kadar insulin di dalam tubuh berbanding lurus dengan persentase lemak di dalam tubuh. peningkatan lemak di dalam tubuh menimbulkan perubahan pada sensitivitas dan sekresi insulin.
 faktor-faktor yang mempengaruhi PMS 
  • pola makan 
  • status gizi
  • riwayat keluarga 
  • riwayat melahirkan
  • status perkawian 
  • usia
  • stres
  • merokok
gejala fisik pms
  • kenaikan berat badan
  • perasaan adanya pembengkakan
  • ketidaknyamanan pada buah dada
  • sakit kepala dan serangan migraine
  • pegal dan nyeri pada otot
  • disminore kongestif
  • berkurangnya air kencig 
  • perubahan kulit
  • perubahan nafsu makan 
  • perubahan pada pola tidur
  • tidak ada gairah untuk serta badan terasa lelah
  • mata terasa sakit,hidung tersumbat,dan timbul reaksi alergi
  • mual,pingsan,asma dan epilepsy
  • kejang
gejala psikologis 
  • ketegangan dan cepat marah(emosional)
  • depresi termasuk kurang percaya diri dan perasaan tidak berharga
  • stres 
  • berkurangnya daya konsentrasi dan daya ingat
  • control emosi yang rendah dan reaksi emosi yang tidak logis 
  • penurunan efisiensi, terutama dalam memecahkan masalah mental
  • kurang atau tidak ada dorongan seks 
  • dorongan yang kuat untuk banyak makan atau sebaliknya tidak nafsu makan 

VULVA HYGIENE

 
 
Komponen Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Vulva Hygiene :

   
a. Persiapan Alat :
1) Waskom
2) Sabun
3) Waslap
4) Kapas savlon
5) Selimut mandi
6) Alas bokong
7) Bedpan/pispot
8) Sarng tangan bersih
9) Scerem/sampiran
10) Nierbecken/bengkok
b. Cara kerja/Pelaksanaan
1) Jelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan pada pasien
2) Cuci tangan
3) Sambil berkomunikasi pasang sampiran dan tutup pintu ruangan, dekatkan peralatan
4) Sambil berkomunikasi, atur posisi pasien pada posisi Dorsal recumbent
5) Sambil berkomunikasi pasang alas bokong dan letakkan bedpan dibawah bokong pasien
6) Sambil berkomunikasi, pasang selimut mandi dengan salah satu sudut berada diantara kedua
kaki, kemudian lilitkan kedua ujung kiri dan kanan di masing-masing paha klien
7) Isi waskon dengan air hangat 410C – 430C
8) Tepatkan waskonberisi air dan kapas savlon kedekat pasien
9) Sambil berkomunikasi fleksikan lutut pasien
10) Pasang sarung tangan
11) Sambil berkomunikasi angkat selimut mandi yang menutupi genetalia, letakkan diatas abdomen
12) Cuci dan keringkan paha atas
13) Cuci labia mayora dengan kapas savlon
14) Sambil berkomunikasi, dengan tanga yang tidak dominan renggangkan labia mayora
15) Sambil berkomunikasi, dengan memakai tangan dominan lakukan vulva hygiene dengan kapas savlon dari atas kebawa, mulai dari sisi luar kiri kanan menuju ketengah (minimal 5 kali usapan), setiap kapas savlon hanya dipakai untuk satu kali usapan lalu buang.
16) Sambil berkomunikasi, cci are pubik menuju ke anus dengan gosokan lembut menggunakan kapas savlon/waslap
17) Jika klien mengunakan bedpan, siramkan air hangat ke atas area perineum
18) Sambil berkomunikasi, keringkan daerah perineum dengan handuk
19) Sambil berkomunikasi, letakkan kembali sudut selimut mandi diantara kedua paha
20) Sambil berkomunikasi, angkat bedpan dan bantu pasien ke posisi miring
21) Sambil berkomunikasi, bersihkan daerah anus dengan gosokan lembut mengunakan waslpa dari arah vagina menuju kearah anus sampai bersih dan keringkan dengan handuk
22) Lepas sarung tangan
23) Sambil berkomunikasi, bantu klien kembali keposisi semula
24) Sambil berkomunikasi, angkat selimut mandi dan alas bokong
25) Sambil berkomunikasi pasang selimut dan rapikan pasien
26) Cuci tangan
27) Catat hasil tindakan (jumlah dan karakter secrat dan kondisi genetalia)
3. Fase terminasi
a. Evaluasi respon klien :
1) Evaluasi subjektif
2) Evaluasi objektif
b. Tindak lanjut klien
c. Kontrak : topic/waktu/tempat
Sikap :
- Hati-hati, jangan sampai melukai kulit pasien
Hal-hal yang perlu diperhatikan selama hygiene vulva :
1. Amati mons veneris untuk :
a. Pola pertumbuhan rambut (karakteristik kelamin sekunder)
b. Adanya pediculosis (infeksi kutu/tuma pada kulit rambut)
2. Inspeksi labia mayora dan perineum untuk :
a. Ukuran dan bentuk normal (dapat bervariasi dari individu ke individu)
b. Pembengkakan labia terlokalisasi, edema, kista kecil (pembengkakan pada labia terlokalisasi dapat disebabkan oleh abses atau kista bartolin; edema pada labia dapat diakibatkan reaksi allergy; kista kecil dapat berupa kista sebasea (tumor dengan kapsul membranous yang didalamnya terdapat lemak dan debris epitel/jrg epitel yang mati)
c. Perubahan warna dan nyeri tekan
d. Varikositis (membengkak atau melebar; pada vena varikosis a/ keadaan vena yg mengalami
distensi dan berbelit-belit/berkelok-kelok secara abnormal)
e. Lesi, vesikel, ulserasi, kerak (kemungkinan ulkus, sipilis, herpes)
f. Kondilomata (biasanya berupa sifilis kondilomata akuminata yg disebabkan oleh humanpapillomavirus, yg paling umum ditularkan secaraseksual dan diperburuk dgn peningkatan sekresi vagina selama hamil)
g. Jaringan parutepisiotomy atau jaringan parut akibat laserasi perineum yang sudah sembuh atau belum sembuh
3. Inspeksi labia minora untuk melihat :
a. Ukuran dan bentuk normal
b. Peradangan, dermatitis, iritasi, atau adanya rabas lengket pada lipatan antara labia mayora dan minora (dapat mengidentifikasikan infeksi vagina atau hygiene yang buruk)
c. Perubahan warna dan nyeri tekan
d. Fistula (lintasan abnormal antara dua rongga atau antar rongga dan permukaan tubuh, mis; fistula rectovaginal/lubang antara vagina dan rectum yg biasa terjadi karena laserasi badan perineum yang berat dan/atau yang di abaikan, dan vesicovaginal/lubang antara kandung kemih dan vagina yang mungkin terjadi karena partus macet yang diabaikan
e. Fisura (setiap celah baik normal ataupun tidak,
f. Vesikula herpes (tonjolan kecil berbatas tegas pada epidermis yang mengandung cairan serosa; lepuh kecil dalam hal ini disebabkan karena adanya herpes)
g. Kankre (lesi akibat garukan)
4. inspeksi klitoris untuk melihat :
a. perlekatan dengan labia minora
b. pembesaran (kemungkinan kondisi maskulinisasi)
5. inspeksi orifisium urethra untuk melihat :
a. pertumbuhan polip, caruncula (pertumbuhan polipoid yang berwarna gelap, pada membrane mukosa meatus urinarius wanita)
b. iritasi, dilatasi (dapat merupakan infeksi traktur urinarius yang berulang atau insertion benda asing)
c. fistula (F. vesicovaginal)
6. inspeksi introitus vagina untuk melihat :
a. hymen atau sisa-sisanya (karungkulus mirtiforme)
b. rabas vagina (dapat merupakan indikasi vaginitis)
c. perubahan warna dan nyeri tekan
d. jaringan parut laserasi yang lama
e. pertumbuhan abnormal
f. pistula
g. fisura
h. prolapse uteri
i. perhatikan apakah introitus nulipara, para atau memiliki celah
 
 
 
 
Referensi
Anonim , 2012, Vulva Hygginiene : Http://Senbd.com diakses tanggal 14 mei 2012, jam 14-54 wib

PERUBAHAN FISIOLOGI PASCA PERSALINAN SISTEM REPRODUKSI DAN PENCERNAAN

Perubahan fisiologi pasca persalinan sistem reproduksi dan pencernaan


Hasil gambar untuk logo universitas respati indonesia
                                                              
                                                                nama: suhesty ajmain
                                                                   nim: 18150170




1.Perubahan Pada Sistem Reproduksi

Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi yaitu pada:

  • Vagina dan perineum
  •  Servik uteri
  •  Uterus
  •  endometrium
Perubahan pada Vagina dan Perineum

     Kondisi vagina setelah persalinan akan tetap terbuka lebar, ada kecenderungan vagina mengalami bengkak dan memar serta nampak ada celah antara introitus vagina. Tonus otot vagina akan kembali pada keadaan semula dengan tidak ada pembengkakan dan celah vagina tidak lebar pada minggu 1-2 hari pertama postpartum. Pada minggu ketiga posrpartum rugae vagina mulai pulih menyebabkan ukuran vagina menjadi lebih kecil. Dinding vagina menjadi lebih lunak serta lebih besar dari biasanya sehingga ruang vagina akan sedikit lebih besar dari keadaan sebelum melahirkan.Vagina yang bengkak atau memar dapat juga diakibatkan oleh trauma karena proses keluarnya kepala bayi atau trauma persalinan lainnya jika menggunakan instrument seperti vakum atau forceps.
Perineum pada saat proses persalinan ditekan oleh kepala janin, sehingga perineum menjadi kendur dan teregang. Tonus otot perineum akan pulih pada hari kelima postpartum mesipun masih kendur dibandingkan keadaan sebelum hamil.
Meskipun perineum tetap intack/utuh tidak terjadi robekan saat melahirkan bayi, ibu tetap merasa memar pada perineum dan vagina pada beberapa hari pertama persalinan. Ibu mungkin merasa malu untuk membuka perineumnya untuk diperiksa oleh bidan, kecuali jika ada indikasi klinis. Bidan harus memberikan asuhan dengan memperhatikan teknik asepsis dan antisepsis, dan lakukan investigasi jika terdapat nyeri perineum yang dialami. Perineum yang mengalami robekan atau di lakukan episiotomy dan dijahit perlu di periksa keadaannya minimal satu minggu setelah persalinan.

Perubahan pada Serviks Uteri

    Perubahan yang terjadi pada serviks uteri setelah persalinan adalah menjadi sangat lunak, kendur dan terbuka seperti corong. Korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks uteri tidak berkontraksi sehingga seolah-olah terbentuk seperti cincin pada perbatasan antara korpus uteri dan serviks uteri.
Tepi luar serviks yang berhubungan dengan ostium uteri ekstermun (OUE) biasanya mengalami laserasi pada bagian lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan beberapa hari setelah persalinan ostium uteri hanya dapat dilalui oleh 2 jari. Pada akhir minggu pertama, ostium uteri telah menyempit, serviks menebal dan kanalis servikalis kembali terbentuk. Meskipun proses involusi uterus telah selesai, OUE tidak dapat kembali pada bentuknya semula saat nullipara. Ostium ini akan melebar, dan depresi bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi ciri khas servis pada wanita yang pernah melahirkan/para.

Perubahan pada Uterus

     Perubahan fisiologi pada uterus yaitu terjadi proses involusio uteri yaitu kembalinya uterus pada keadaan sebelum hamil baik ukuran, tonus dan posisinya.Proses involusio juga dijelaskan sebagai proses pengecilan ukuran uterus untuk kembali ke rongga pelvis, sebagai tahapan berikutnya dari proses recovery pada masa nifas. Namun demikian ukuran tersebut tidak akan pernah kembali seperti keadaan nullipara. Hal ini disebabkan karena proses pagositosis biasanya tidak sempurna, sehingga masih tertinggal sedikit jaringan elastis. Akibatnya ketika seorang perempuan pernah hamil, uterusnya tidak akan kembali menjadi uterus pada keadaan nullipara.
Pada jam-jam pertama pasca persalinan, uterus kadang-kadang bergeser ke atas atau ke kanan karena kandung kemih. Kandung kemih harus dikosongkan sebelum mengkaji tinggi fundus uteri (TFU) sebagai indikator penilaian involusi uteri, agar dapat memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat.
Uterus akan mengecil menjadi separuh dalam satu minggu, dan kembali ke ukuran normal pada minggu kedelapan postpartum dengan berat sekitar 30 gram. Jika segera setelah persalinan TFU akan ditemukan berada setinggi umbilicus ibu, maka hal ini perlu dikaji labih jauh, karena merupakan tanda dari atonia uteri disertai perdarahan atau retensi bekual darah dan darah, serta distensi kandung kemih, tidak bisa berkemih.

1. Perubahan pada Endometrium

   Pada hari kedua – ketiga pasca persalinan, lapisan desidua berdiferensiasi menjadi dua lapisan. Stratum superfisial menjadi nekrotik bersama lokia, sedangkan stratum basal yang bersebelahan dengan myometrium tetap utuh dan yang menjadi sumber pembentukan endometrium baru. Endometrium  terbentuk dari proliferasi sisa-sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat antar kelenjar tersebut.
Proses pembentukan kembali endometrium berlangsung secara cepat selama masa nifas, kecuali pada tempat insersi plasenta. Dalam satu minggu atau lebih permukaan bebas menjadi tertutup kembali oleh epitel endometrium dan pulih kembali dalam waktu 3 minggu.

2.Perubahan sistem pencernaan

    Setelah mengalami proses persalinan, ibu akan mengalami rasa lapar dan haus akibat banyak tenaga yang terkuras dan juga stress yang tinggi karena melahirkan bayinya.Tetapi tidak jarang juga ditemui ibu yang tidak memiliki nafsu makan karena kelelahan melahirkan bayinya. Jika ditemukan keadaan seperti itu, perlu menjadi perhatian bidan agar dapat memotivasi ibu untuk makan dan minum pada beberapa jam pertama postpartum, juga kajian lebih lanjut terhadap keadaan psikologis ibu.
   Jika keadaan ini menjadi persisten selama beberapa jam setelah persalinan, waspada terhadap masalah perdarahan, dan komplikasi lain termasuk gangguan psikologi pada masa nifas. Demikian juga beberapa keyakinan maupun adat istiadat atau budaya setempat yang masih diyakini oleh ibu untuk dijalani termasuk kebiasaan makan dan minum setelah melahirkan bayinya.
Proses menyusui, serta pengaruh progesterone yang mengalami penurunan pada masa nifas juga dapat menyebabkan ibu konstipasi. Keinginan ini akan tertunda hingga 2-3 hari postpartum. Tonus otot polos secara bertahap meningkat pada seluruh tubuh, dan gejala heartburn / panas di perut / mulas yang dialami wanita bisa hilang. Sembelit dapat tetap menjadi masalah umum pada ibu nifas selama periode postnatal.
   Kondisi perineum yang mengalami jahitan juga kadang menyebabkan ibu takut untuk BAB. Oleh karena itu bidan perlu memberikan edukasi agar keadaan ini tidak menyebabkan gangguan BAB pada ibu nifas dengan banyak minum air dan diet tinggi serat serta informasi bahwa jahitan episiotomy tidak akan terlepas jika ibu BAB.













Referensi

•  Saleha S. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
•  Chapter 17: Postpartum Physiologic Adaptation. Available from: https://www.nccwebsite.org/resources/docs/Postpartumchges.pdf.
•  Lowdermilk DL, Perry SE, Cushion K, Alden KR. Maternity and Womens Helath care. Olshansky EF, editor. St Luois: Elsevier.
•  Mahalaksmi V, Sumathi G, Chitra TV, Ramamoorthy V. Effect of exercise on diastasis recti abdominis among the primiparous women: a quasi experimental study. Int J Reprod Contracept Obstet Gynecol. 2016;5(12):4441-6.

ADAPTASI FISIOLOGI PASCA PERSALINAN PADA SISTEM PERKEMIHAN DAN MUSKULUSKELETAL

adaptasi fisiologi pasca persalinan pada sistem perkemihan dan muskuluskeletal


Hasil gambar untuk logo universitas respati indonesia


                                                     Nama: suhesty ajmain 
                                                        Nim: 18150170



Adaptasi Fisiologis

     Pada masa nifas, akan terjadi proses perubahan pada tubuh ibu dari kondisi hamil kembali ke kondisi sebelum hamil, yang terjadi secara bertahap.Perubahan ini juga terjadi untuk dapat mendukung perubahan lain yang terjadi dalam tubuh ibu karena kehamilan, salah satunya adalah proses laktasi, agar bayinya dapat ternutrisi dengan nutrisi yang paling tepat yaitu ASI.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses ini, misalnya tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, tenaga kesehatan dan asuhan yang diberikan, maupun suami dan keluarga disekitar ibu nifas.Adapun perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada masa nifas antara lain perubahan yang terjadi pada organ reproduksi, system pencernaan, system perkemihan, system musculoskeletal, system endokrin dan lain sebagainya yang akan dijelaskan berikut ini.

1.Perubahan sistem perkemihan

     Perubahan pada system perkemihan termasuk terjadinya diuresis setelah persalinan terjadi pada hari 2-3 postpartum, tetapi seharusnya tidak terjadi dysuria. Hal ini dapat disebabkan karena terjadinya penurunan volume darah yang tiba-tiba selama periode posrpoartum. Diuresis juga dapat tejadi karena estrogen yang meingkat pada masa kehamilan yang menyebabkan sifat retensi pada masa postpartum kemudian keluar kembali bersama urine. dilatasi pada saluran perkemihan terjadi karena peningkatan volume vascular menghilang, dan organ ginjal secara bertahap kembali ke keadaan pregravida.
Segera setelah persalinan kandung kemih akan mengalami overdistensi pengosongan yang tidak sempurna dan residu urine yang berlebihan akibat adanya pembengkakan kongesti dan hipotonik pada kandung kemih. Efek ini akan hilang pada 24 jam pertama postpartum.Jika Keadaan ini masih menetap maka dapat dicurigai adanya gangguan saluran kemih.
Bladder dan uretra dapat terjadi kerusakan selama proses persalinan, yang menyebabkan kurangnya sensasi untuk mengeluarkan urine pada dua hari pertama. Hal ini dapat menyebabkan retensi urin karena overflow, dan dapat meningkatkan nyeri perut bagian bawah dan ketidaknyamanan, infeksi saluran kemih dan sub involusi uterus, yang menjadi kasus primer dan sekunder dari perdarahan postpartum.

2.perubahan musuluskeletal

      sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.
Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas, meliputi:
  1.  Dinding perut dan peritoneum. 
  2.  Kulit abdomen.
  3.  Striae.
  4.  Perubahan ligamen.
  5.  Simpisis pubis.
Dinding Perut dan Peritoneum

    Dinding perut akan longgar pasca persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu. Pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis, sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fasia tipis dan kulit.
Kulit Abdomen
Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga berbulan-bulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal kembali dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal.

Striae

    Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding abdomen. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar. Tingkat diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal.

Perubahan Ligamen

      Setelah janin lahir, ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi.

Simpisis Pubis

     Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat menyebabkan morbiditas maternal. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simpisis dapat dipalpasi. Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca melahirkan, bahkan ada yang menetap.







Referensi

mbarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 81-82).
Anisah, N., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
scribd.com/doc/16287636/ASUHAN-KEPERAWATAN-MATERNITAS
diunduh 12 Feb 2010, 04:30 PM.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
•  Saleha S. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
•  Chapter 17: Postpartum Physiologic Adaptation. Available from: