Jumat, 19 Juli 2019

ADAPTASI FISIOLOGI PASCA PERSALINAN PADA SISTEM PERKEMIHAN DAN MUSKULUSKELETAL

adaptasi fisiologi pasca persalinan pada sistem perkemihan dan muskuluskeletal


Hasil gambar untuk logo universitas respati indonesia


                                                     Nama: suhesty ajmain 
                                                        Nim: 18150170



Adaptasi Fisiologis

     Pada masa nifas, akan terjadi proses perubahan pada tubuh ibu dari kondisi hamil kembali ke kondisi sebelum hamil, yang terjadi secara bertahap.Perubahan ini juga terjadi untuk dapat mendukung perubahan lain yang terjadi dalam tubuh ibu karena kehamilan, salah satunya adalah proses laktasi, agar bayinya dapat ternutrisi dengan nutrisi yang paling tepat yaitu ASI.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses ini, misalnya tingkat energi, tingkat kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, tenaga kesehatan dan asuhan yang diberikan, maupun suami dan keluarga disekitar ibu nifas.Adapun perubahan anatomi dan fisiologi yang terjadi pada masa nifas antara lain perubahan yang terjadi pada organ reproduksi, system pencernaan, system perkemihan, system musculoskeletal, system endokrin dan lain sebagainya yang akan dijelaskan berikut ini.

1.Perubahan sistem perkemihan

     Perubahan pada system perkemihan termasuk terjadinya diuresis setelah persalinan terjadi pada hari 2-3 postpartum, tetapi seharusnya tidak terjadi dysuria. Hal ini dapat disebabkan karena terjadinya penurunan volume darah yang tiba-tiba selama periode posrpoartum. Diuresis juga dapat tejadi karena estrogen yang meingkat pada masa kehamilan yang menyebabkan sifat retensi pada masa postpartum kemudian keluar kembali bersama urine. dilatasi pada saluran perkemihan terjadi karena peningkatan volume vascular menghilang, dan organ ginjal secara bertahap kembali ke keadaan pregravida.
Segera setelah persalinan kandung kemih akan mengalami overdistensi pengosongan yang tidak sempurna dan residu urine yang berlebihan akibat adanya pembengkakan kongesti dan hipotonik pada kandung kemih. Efek ini akan hilang pada 24 jam pertama postpartum.Jika Keadaan ini masih menetap maka dapat dicurigai adanya gangguan saluran kemih.
Bladder dan uretra dapat terjadi kerusakan selama proses persalinan, yang menyebabkan kurangnya sensasi untuk mengeluarkan urine pada dua hari pertama. Hal ini dapat menyebabkan retensi urin karena overflow, dan dapat meningkatkan nyeri perut bagian bawah dan ketidaknyamanan, infeksi saluran kemih dan sub involusi uterus, yang menjadi kasus primer dan sekunder dari perdarahan postpartum.

2.perubahan musuluskeletal

      sistem muskuloskeletal terjadi pada saat umur kehamilan semakin bertambah. Adaptasi muskuloskelatal ini mencakup: peningkatan berat badan, bergesernya pusat akibat pembesaran rahim, relaksasi dan mobilitas. Namun demikian, pada saat post partum sistem muskuloskeletal akan berangsur-angsur pulih kembali. Ambulasi dini dilakukan segera setelah melahirkan, untuk membantu mencegah komplikasi dan mempercepat involusi uteri.
Adaptasi sistem muskuloskeletal pada masa nifas, meliputi:
  1.  Dinding perut dan peritoneum. 
  2.  Kulit abdomen.
  3.  Striae.
  4.  Perubahan ligamen.
  5.  Simpisis pubis.
Dinding Perut dan Peritoneum

    Dinding perut akan longgar pasca persalinan. Keadaan ini akan pulih kembali dalam 6 minggu. Pada wanita yang asthenis terjadi diastasis dari otot-otot rectus abdominis, sehingga sebagian dari dinding perut di garis tengah hanya terdiri dari peritoneum, fasia tipis dan kulit.
Kulit Abdomen
Selama masa kehamilan, kulit abdomen akan melebar, melonggar dan mengendur hingga berbulan-bulan. Otot-otot dari dinding abdomen dapat kembali normal kembali dalam beberapa minggu pasca melahirkan dengan latihan post natal.

Striae

    Striae adalah suatu perubahan warna seperti jaringan parut pada dinding abdomen. Striae pada dinding abdomen tidak dapat menghilang sempurna melainkan membentuk garis lurus yang samar. Tingkat diastasis muskulus rektus abdominis pada ibu post partum dapat dikaji melalui keadaan umum, aktivitas, paritas dan jarak kehamilan, sehingga dapat membantu menentukan lama pengembalian tonus otot menjadi normal.

Perubahan Ligamen

      Setelah janin lahir, ligamen-ligamen, diafragma pelvis dan fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi retrofleksi.

Simpisis Pubis

     Pemisahan simpisis pubis jarang terjadi. Namun demikian, hal ini dapat menyebabkan morbiditas maternal. Gejala dari pemisahan simpisis pubis antara lain: nyeri tekan pada pubis disertai peningkatan nyeri saat bergerak di tempat tidur ataupun waktu berjalan. Pemisahan simpisis dapat dipalpasi. Gejala ini dapat menghilang setelah beberapa minggu atau bulan pasca melahirkan, bahkan ada yang menetap.







Referensi

mbarwati, 2008. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Mitra Cendikia. (hlm: 81-82).
Anisah, N., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta.
scribd.com/doc/16287636/ASUHAN-KEPERAWATAN-MATERNITAS
diunduh 12 Feb 2010, 04:30 PM.
scribd.com/doc/17226035/Post-Partum-Oke diunduh 8 Feb 2010, 11:46 PM.
scribd.com/doc/24817163/Postpartum-Normal diunduh 12 Feb 2010, 04:46 PM.
•  Saleha S. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika; 2009.
•  Chapter 17: Postpartum Physiologic Adaptation. Available from:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar