Jumat, 19 Juli 2019

VULVA HYGIENE

 
 
Komponen Prosedur Pemenuhan Kebutuhan Vulva Hygiene :

   
a. Persiapan Alat :
1) Waskom
2) Sabun
3) Waslap
4) Kapas savlon
5) Selimut mandi
6) Alas bokong
7) Bedpan/pispot
8) Sarng tangan bersih
9) Scerem/sampiran
10) Nierbecken/bengkok
b. Cara kerja/Pelaksanaan
1) Jelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan pada pasien
2) Cuci tangan
3) Sambil berkomunikasi pasang sampiran dan tutup pintu ruangan, dekatkan peralatan
4) Sambil berkomunikasi, atur posisi pasien pada posisi Dorsal recumbent
5) Sambil berkomunikasi pasang alas bokong dan letakkan bedpan dibawah bokong pasien
6) Sambil berkomunikasi, pasang selimut mandi dengan salah satu sudut berada diantara kedua
kaki, kemudian lilitkan kedua ujung kiri dan kanan di masing-masing paha klien
7) Isi waskon dengan air hangat 410C – 430C
8) Tepatkan waskonberisi air dan kapas savlon kedekat pasien
9) Sambil berkomunikasi fleksikan lutut pasien
10) Pasang sarung tangan
11) Sambil berkomunikasi angkat selimut mandi yang menutupi genetalia, letakkan diatas abdomen
12) Cuci dan keringkan paha atas
13) Cuci labia mayora dengan kapas savlon
14) Sambil berkomunikasi, dengan tanga yang tidak dominan renggangkan labia mayora
15) Sambil berkomunikasi, dengan memakai tangan dominan lakukan vulva hygiene dengan kapas savlon dari atas kebawa, mulai dari sisi luar kiri kanan menuju ketengah (minimal 5 kali usapan), setiap kapas savlon hanya dipakai untuk satu kali usapan lalu buang.
16) Sambil berkomunikasi, cci are pubik menuju ke anus dengan gosokan lembut menggunakan kapas savlon/waslap
17) Jika klien mengunakan bedpan, siramkan air hangat ke atas area perineum
18) Sambil berkomunikasi, keringkan daerah perineum dengan handuk
19) Sambil berkomunikasi, letakkan kembali sudut selimut mandi diantara kedua paha
20) Sambil berkomunikasi, angkat bedpan dan bantu pasien ke posisi miring
21) Sambil berkomunikasi, bersihkan daerah anus dengan gosokan lembut mengunakan waslpa dari arah vagina menuju kearah anus sampai bersih dan keringkan dengan handuk
22) Lepas sarung tangan
23) Sambil berkomunikasi, bantu klien kembali keposisi semula
24) Sambil berkomunikasi, angkat selimut mandi dan alas bokong
25) Sambil berkomunikasi pasang selimut dan rapikan pasien
26) Cuci tangan
27) Catat hasil tindakan (jumlah dan karakter secrat dan kondisi genetalia)
3. Fase terminasi
a. Evaluasi respon klien :
1) Evaluasi subjektif
2) Evaluasi objektif
b. Tindak lanjut klien
c. Kontrak : topic/waktu/tempat
Sikap :
- Hati-hati, jangan sampai melukai kulit pasien
Hal-hal yang perlu diperhatikan selama hygiene vulva :
1. Amati mons veneris untuk :
a. Pola pertumbuhan rambut (karakteristik kelamin sekunder)
b. Adanya pediculosis (infeksi kutu/tuma pada kulit rambut)
2. Inspeksi labia mayora dan perineum untuk :
a. Ukuran dan bentuk normal (dapat bervariasi dari individu ke individu)
b. Pembengkakan labia terlokalisasi, edema, kista kecil (pembengkakan pada labia terlokalisasi dapat disebabkan oleh abses atau kista bartolin; edema pada labia dapat diakibatkan reaksi allergy; kista kecil dapat berupa kista sebasea (tumor dengan kapsul membranous yang didalamnya terdapat lemak dan debris epitel/jrg epitel yang mati)
c. Perubahan warna dan nyeri tekan
d. Varikositis (membengkak atau melebar; pada vena varikosis a/ keadaan vena yg mengalami
distensi dan berbelit-belit/berkelok-kelok secara abnormal)
e. Lesi, vesikel, ulserasi, kerak (kemungkinan ulkus, sipilis, herpes)
f. Kondilomata (biasanya berupa sifilis kondilomata akuminata yg disebabkan oleh humanpapillomavirus, yg paling umum ditularkan secaraseksual dan diperburuk dgn peningkatan sekresi vagina selama hamil)
g. Jaringan parutepisiotomy atau jaringan parut akibat laserasi perineum yang sudah sembuh atau belum sembuh
3. Inspeksi labia minora untuk melihat :
a. Ukuran dan bentuk normal
b. Peradangan, dermatitis, iritasi, atau adanya rabas lengket pada lipatan antara labia mayora dan minora (dapat mengidentifikasikan infeksi vagina atau hygiene yang buruk)
c. Perubahan warna dan nyeri tekan
d. Fistula (lintasan abnormal antara dua rongga atau antar rongga dan permukaan tubuh, mis; fistula rectovaginal/lubang antara vagina dan rectum yg biasa terjadi karena laserasi badan perineum yang berat dan/atau yang di abaikan, dan vesicovaginal/lubang antara kandung kemih dan vagina yang mungkin terjadi karena partus macet yang diabaikan
e. Fisura (setiap celah baik normal ataupun tidak,
f. Vesikula herpes (tonjolan kecil berbatas tegas pada epidermis yang mengandung cairan serosa; lepuh kecil dalam hal ini disebabkan karena adanya herpes)
g. Kankre (lesi akibat garukan)
4. inspeksi klitoris untuk melihat :
a. perlekatan dengan labia minora
b. pembesaran (kemungkinan kondisi maskulinisasi)
5. inspeksi orifisium urethra untuk melihat :
a. pertumbuhan polip, caruncula (pertumbuhan polipoid yang berwarna gelap, pada membrane mukosa meatus urinarius wanita)
b. iritasi, dilatasi (dapat merupakan infeksi traktur urinarius yang berulang atau insertion benda asing)
c. fistula (F. vesicovaginal)
6. inspeksi introitus vagina untuk melihat :
a. hymen atau sisa-sisanya (karungkulus mirtiforme)
b. rabas vagina (dapat merupakan indikasi vaginitis)
c. perubahan warna dan nyeri tekan
d. jaringan parut laserasi yang lama
e. pertumbuhan abnormal
f. pistula
g. fisura
h. prolapse uteri
i. perhatikan apakah introitus nulipara, para atau memiliki celah
 
 
 
 
Referensi
Anonim , 2012, Vulva Hygginiene : Http://Senbd.com diakses tanggal 14 mei 2012, jam 14-54 wib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar