Sabtu, 20 Juli 2019

PRINSIP MANAJEMEN ELIMINASI

PRINSIP MANAJEMEN ELIMINASI

Kebutuhan eliminasi terdiri atas dua yakni;
1.Eliminasi Urine (buang air kecil) atau miksi
2. Eliminasi Alvi (buang air besar) atau defekasi

Miksi
⏯Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi
⏯Proses ini terjadi dari dua langkah utama yaitu:
1. Kandung kemih secara progresif terisi
2. Timbul refleks saraf yang disebut refleks    miksi. 

Sistem tubuh yang berperan dalam terjadinya eliminasi urine

1.Ginjal
2. Kandung kemih
3. Uretra
    
Frekuensi Berkemih
  • Frekuensi untuk berkemih tergantung kebiasaan dan kesempatan
  • Banyak orang-orang berkemih kira-kira 70 % dari urine setiap hari pada waktu bangun tidur
  • Kebiasaan lain dalam berkemih : pertama kali pada waktu bangun tidur, sebelum tidur dan berkisar waktu makan
Usia Jumlah / hari

Hari pertama - kedua dari kehidupan 15 – 60 ml
Hari ketiga – kesepuluh dari kehidupan 100 – 300 ml
Hari kesepuluh – 2 bulan kehidupan 250 – 400 ml
Dua bulan – 1 tahun kehidupan 400 – 500 ml
1 – 3 tahun 500 – 600 ml
3 – 5 tahun 600 – 700 ml
5 – 8 tahun 700 – 1000 ml
8 – 14 tahun 800 – 1400 ml
14 tahun – dewasa 1500 ml
Dewasa tua 1500 ml / kurang

Komposisi urine: Air ( 96%) dan 4% larutan organik serta non organik.

Karakteristik urine

Warna
      Kekuning-kuningan
      Orange gelap
      Merah, coklat 
Bau
     Normal urine berbau aromatik yang    memusingkan.
Kejernihan
     Normal urine terang dan transparan. Urine dapat    menjadi keruh karena ada mukus atau pus.
pH
     Normal pH urine sedikit asam (4,5 – 7,5).
  • Retensi
  • Inkontinensia urine
  • Enuresis
  • Perubahan pola urine  (frekuensi, keinginan/urgensi)
  • Poliuria
  • Urine suppression
Penyebab Umum Masalah Eliminasi
  • Obstruksi
  • Pertumbuhan jaringan abnormal
  • Batu
  • Infeksi
Kateterisasi

1. Kateter adalah pipa untuk memasukkan atau mengeluarkan cairan. Kateter terutama terbuat dari bahan karet atau plastik, metal, woven silk dan silicon

2, Kateterisasi urine adalah tindakan memasukan selang kateter kedalam kandung kemih melalui uretra, dengan tujuan mengeluarkan urin.

KEGUNAAN
  • Untuk segera mengatasi distensi kandung kemih.
  • Untuk pengumpulan spesimen urine.
  • Untuk mengukur residu urine setelah miksi di dalam kandung kemih.
  • Untuk mengosongkan kandung kemih sebelum dan selama pembedahan.

PERAWATAN KATETER
  • Banyak minum
  • Mengosongkan urine bag secara teratur
  • Tidak mengangkat urine bag lebih tinggi dari tubuh penderita
  • Membersihkan darah, nanah, sekret dan mengolesi kateter dengan antiseptik secara berkala
  • Ganti kateter paling tidak 2 minggu sekali
Komplikasi Pemasangan Kateter
  • Bila pemasangan dilakukan tidak hati-hati bisa menyebabkan luka dan perdarahan uretra
  • Balon yang dikembangkan sebelum memasuki buli-buli juga dapat menimbulkan luka pada uretra. 
  • Pada penderita tidak sadar, kateter dengan balon terkembang bisa dicabut yang berkibat perdarahan dan melukai uretra
  • Kateter tidak bisa dicabut karena saluran pengembang balon tersumbat
Urinalisis

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. 

Defekasi

Defekasi adalah pengeluaran feses dari anus dan rektum.

 Frekuensi defekasi pada setiap orang sangat bervariasi dari beberapa kali perhari sampai 2 atau 3 kali perminggu. 

 Banyaknya feses juga bervariasi setiap orang

   Yang berperan adalah sistem gastroinstestinal bawah yang meliputi usus halus dan usus besar. 

Gangguan Eliminasi Alvi
  1. Konstipasi
  2. Diare
  3. Inkontinensia usus
  4. Kembung
  5. Hemorroid
  6. Fecal infection
Faktor Yang Mempengaruhi Proses Defekasi
  1. Usia
  2. Diet asupan cairan
  3. Aktifitas 
  4. Pengobatan
  5. Gaya hidup
  6. Penyakit
Spesimen Urin

Tujuan 
 Menetukan apakah terdapat kelainan urin yang di urai secara makroskopis ( fisik ), sedimen / endapan, kimiawi, bakterialogis, maupun imunologis, tergantung pada sampel atau jenis urin yang diperiksa.
  • Spesimen urin bersih untuk urinalisis rutin
  • Spesimen urin tengah atau pancar tengah untuk    kultur urin
  • Spesimen urin sewaktu untuk berbagai pemeriksaan        bergantung masalah spesifik pada klien.
Feses

Pemeriksaan feses dilakukan untuk:
  • Melihat ada tidaknya darah. 
  • Mendeteksi telur cacing dan parasit.
  • Mendeteksi virus dan bakteri
Penyimpanan
  • Feses tahan < 1 jam pada suhu ruang 
  • Bila 1 jam/lebih gunakan media transpot yaitu Stuart’s medium, ataupun Pepton water
  • Penyimpanan < 24 jam pada suhu ruang, sedangkan > 24 jam pada suhu 4°C 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar